IDEART 2015 : Bincang Santai dengan Pembicara Aduhai

16 February 2015

Siang itu, tepat pukul 11.00 WIB di TS Suite Ballroom Hotel dua sosok lelaki yang dipandang saja sudah bisa menghipnotis, duduk manis siap memotivasi para peserta Bincang Santai. Topik Bincang Santai yang merupakan rangkaian acara IDEART 2015 kali ini adalah tentang industri kreatif, utamanya peran pemerintah. Sosok lelaki penghipnotis pertama adalah Mark Yoshua Widjaja, chief designer industrial design dept research & development directorate. Panjang ya profesinya, intinya sih Mark Yoshua ini seorang designer otomotif dari perusahaan mobil Daihatsu *interesting*. Sedangkan satu sosok lelaki penghipnotis lainnya adalah mantan dari Raisa, Keenan Pearce *pingsan*. Keduanya berbicara tentang dunia industri kreatif sesuai pada masing-masing bidang kreatif yang ditekuninya.

Mark Yoshua Widjaja

Saat hadir di Bincang Santai siang itu, Mark ditemani oleh sang ibu. So cute ya. Jadi penasaran, Mark ini masih single apa sudah nggak available? Idaman banget kalau ada lelaki yang sangat menyayangi ibunya. Tapi ini bisa jadi karena Mark sudah ditinggal sang ayah sejak kecil, sehingga ibu adalah satu-satunya orang tua yang akan menjadi saksi kesuksesannya.

Mark menyapa “selamat pagi” kepada peserta yang hadir, meskipun jam sudah menunjukkan waktu siang hari. Dia memulai dengan cerita saat Mark masih SD. Mark pernah tidak naik kelas 2 kali, tapi itu bukan sebuah hal yang memalukan baginya meskipun bukan juga hal yang bisa dibanggakan. Baginya sekalipun saat kuliah mendapat IP 3.78 itu tidak menjadi satu-satunya syarat mutlak untuk menjajaki kerasnya dunia kerja. Sebab ada satu modal yang tak penting untuk terjun di dunia kerja, yaitu PASSION. Meraih gelar IP cumlaude, bukan berarti mudah untuk mendapatkan pekerjaan yang disuka. Maka passion lah yang membawa Mark sampai pada pencapainnya saat ini.

Mark kecil sudah sangat menggilai mobil. Bahkan Mark sempat dibenci teman-temannya karena setiap kali bertemu orang yang ditanya adalah “kamu pakai mobil apa?”. Tapi justru kesukaannya inilah yang membukakan pintu karir Mark. Bagi Mark, passion sama dengan hobi. Jika susah menemukan passion kita, listing saja hobi kita lalu susun skala prioritas. Ya, tetap harus ada prioritas atau pilihan utama. Sebab kita tidak bisa memilih atau mengejar lebih dari satu passion dalam waktu yang bersamaan.

Saat memutuskan untuk masuk di dunia kerja, Mark menekankan untuk kita memilih tempat kerja dengan tepat. Memilih kerja ibarat investasi, jika salah maka kita akan rugi. Sebab itu, saat bekerja di tempat yang dirasa tidak tepat sama saja dengan membuang waktu. Tiga kata kunci utama dalam memutuskan langkah memasuki dunia kerja kreatif adalah konsistensi, menjaga hubungan baik dan passion.

Yap, Mark sangat menyoroti komunikasi dan proses sebagai senjata dalam merakit kreativitas di dunia industri. Dia memberi contoh saat akan merancang sebuah design mobil yang cocok dengan karakter masyarakat dan jalanan Indonesia. Dia berbincang, mendiskusikan dengan orang lain hingga menyimpulkan bahwa kendala berkendara di Indonesia adalah macet, maka Mark mendesign sebuah mobil kecil namun tetap mengutamakan kenyamanan dan estetika. Design itu diwuudkan pada mobil Ayla. Wooo ini tho sosok di balik imutnya Ayla.

Perkara mana yang seharusnya didahulukan antara pengembangan konsep dan pemanfaatan kesempatan, Mark tetap menekankan pada komunikasi. Diskusikan dengan banyak orang dahulu sebab ini berkaitan dengan proses. Kalau input dan prosesnya baik, maka hasilnya pun mengikuti. Untuk kesempatan, itu sebagai alarm bahwa memang saatnya kita bergerak.

Ada akhirnya berkecimpung di dunia industri kreatif semua kembali pada mindset. Posisikan mindset kita selau positif. Sebab yang tau akan rencana dan market dari industri kreatif kita adalah diri kita sendiri.

Keenan Pearce

Pasti banyak dari kita yang berprasangka bahwa kalau sudah keturunan selebriti atau jadi teman dekatnya selebriti, bisnis apa pun pasti jadi. Anggapan ini justru bikin sosok Keenan gerah. Menjadi kakak dari Pevita Pearce dan pernah punya hubungan spesial dengan Raisa bukan jadi motivasi utamanya untuk terjun di industri kreatif. Bagi Keenan, dia lebih suka dan harus berdikari alias berdiri di atas kaki sendiri. Sehingga dari semangat ini, Keenan mulai berimajinasi, menemukan ide-ide dan mengomunikasikannya.

Ya, sepakat dengan Mark, Keenan mengatakan bahwa communication skill merupakan modal penting dalam menekuni dunia industri kreatif. Sebab sumber dari ide dan kepercayaan diri akan muncul saat kita berinteraksi dengan orang lain. Apalagi menurut Keenaan saat ini kita berada di selfie generation, di mana intimate to our self menjadi hal penting. Percaya pada diri sendiri akan memunculkan keyakinan pada ide yang kita miliki.

Untuk itu Keenan sangat setuju dengan konsep kolaborasi. Penyatuan misi untuk satu visi yang sama akan memperluas target market. Karena itu jika menyinggung Euphoria Project sebagai dunia kreatif bidang fashion yang ditekuninya saat ini, Keenan mengolaborasikan para pemilik brand lokal untuk mencapai satu tujuan, yaitu mengangkat value of local brand. Bahwa lokal brand pun mampu bersaing dan punya potensi untuk bersaing bahkan di kanca mancanegara.

Kolaborasi ini juga dirasa Keenan sudah mulai dilakukan oleh pemerintah. Menurut Keenan, pemerintah sudah mulai concern pada industri kreatif di Indonesia, untuk itu lah dibentuk juga badan ekonomi kreatif. Terlebih 2015 ini memang tahunnya Masyarakat Ekonomi ASEAN, yang mana ini adalah tantangan besar bagi pelaku industri kreatif di Indonesia untuk mengangkat produknya. Bagi Keenan untuk menghadapi MEA 2015 kuncinya ada pada keberanian dan jiwa nasionalisme yang kuat. 'Just do it!' Ungkapnya.

Hingga pada sesi terakhir Bincang Santai, Keenan mengatakan bahwa upayakan setiap pagi dimulai dengan berpikir kontribusi apa yang bisa kita lakukan untuk mengembangkan kreativitas Indonesia.

Bu Risma, Wali Kota Surabaya

Di tengah penjelasan Keenan tentang bagaimana upaya kita untuk bisa menyadarkan masyarakat di kota kecil agar aware dengan industri kreatif, momskynya arek Suroboyo datang mencuri perhatian. Kehadirannya di panggung Bincang Santai disambut tepuk tangan riuh dari peserta. Setelah sudah menyamankan posisi duduknya, Bu Risma langsung disodori pertanyaan bagaimana pandangan pemerintah kota Surabaya terkait industri kreatif. Bu Risma lalu menjabarkan bahwa saat ini industri kreatif sudah mulai berkembang di Surabaya, utamanya bidang kerajinan yang digagas oleh kebanyakan ibu-ibu di Surabaya. Sedangkan yang saat ini on process adalah pengembangan industri kreatif di bidang perfilman, teknologi informasi hingga fashion.

Satu pernyataan dari Bu Risma yang bisa jadi diamini oleh seluruh peserta Bincang Santai, 'industri kreatif adalah industri yang terus bergerak, tidak akan mati, tidak akan kena krisis, tidak terbatas ruang dan waktu, asalkan didorong dengan karya yang terus maju'. Setuju kan?

Sebab memang menurut Wali Kota Surabaya ini, industri kreatif adalah industri yang dinamis. Apa yang terjadi saat ini mungkin akan berbeda dengan esok. Sehingga yang harus dilakukan adalah survive untuk saat ini dan terus berpikir untuk segala kemungkinan yang terjadi. Lagi-lagi sepakat dengan Mark dan Keenan, kunci utamanya adalah komunikasi. Tak usah malu jika dipandang aneh dengan ide-ide gila. Tetap dicoba untuk dikomunikasikan saja, dan tentunya direalisasikan.

Terkait upaya meningkatkan kecintaan pada produk lokal, Bu Risma sedikit menyentil pada style berpakaiannya. Bu Risma memaparkan bahwa dia tak pernah memakai jas meskipun dalam sebuah pertemuan formal sekalipun. Bu Risma lebih suka dan bangga mengenakan batik. Hal ini bercermin dari masyarakat India yang meskipun di forum internasional, tetap menggunakan pakaian sari sebagai pakaian khasnya. Jika India boleh dan bisa, mengapa kita tidak melakukan hal serupa pada batik sebagai simbol budaya?

Hingga pada akhirnya, Bu Risma menuturkan, kita memang tidak perlu repot-repot untuk mengubah orang lain agar mau mencintai produk-produk lokal. Yang perlu kita lakukan hanyalah merubah diri kita sendiri dan berbuat sesuatu dengan kemampuan kita yang tujuannya adalah menarik perhatian orang lain. Jika orang lain sudah punya ketertarikan, maka mereka akan berubah dengan sendirinya.

So, Mitra Merdeka apa yang ada di pikiran Anda saat ini untuk berpartisipasi dalam industri kreatif Indonesia?

 

Naskah: Istiqomah

Foto: Nadia Maya