Gathering Hidroponik Se-Indonesia: Bangkitkan Kebanggaan Jadi Petani di Negeri Sendiri

31 March 2015

Petaniku

Aku ingin menjadi sepertimu

Atas jasamu kami bisa makan nasi

Atas keringatmu kami bisa kenyang setiap hari

Terima kasih petani

Kerja kerasmu sungguh berarti.

 

Begitu lah kira-kira rangkaian kalimat puisi sederhana yang biasa kita jumpai di buku-buku Bahasa Indonesia Sekolah Dasar. Seolah menjadi petani adalah sebuah profesi idaman yang setara dengan guru atau polisi. Sebab tertulis jasa yang begitu luar biasa berarti untuk manusia. Tapi faktanya saat dilontarkan pertanyaan kepada para pelajar SD hingga SMA “siapa yang punya cita-cita ingin jadi petani?” jarang sekali secara serempak mengacungkan diri. Bahkan sebuah survey yang disampaikan oleh Direktur Utama Puspa Agro, Pasar Induk Agrobis Jatim, tidak lebih dari 20 persen mahasiswa lulusan pertanian melanjutkan karirnya di bidang pertanian. Artinya separuh lebih dari seluruh mahasiswa pertanian tidak menjadikan bertani sebagai profesi yang mereka geluti lepas menjadi sarjana pertanian. Ini kondisi yang begitu miris.

Petani sebagai pelaku, bertani sebagai aktivitasnya dianggap sebagai profesi yang tidak menarik. Kotor, panas, dan tidak ada jenjang karir itu bisa jadi bayangan yang selama ini membingkai profesi seorang petani. Atas dasar ini Komunitas Hidroponik di Indonesia bersatu bersama-sama untuk menggaungkan betapa menjadi petani adalah sebuah kebanggaan.

Pada 22 Maret 2015, berkumpul di Gedung Tani Pasar Induk Modern Agrobis Puspa Agro, Taman Sidoarjo, untuk pertama kalinya diadakan “Gathering Hidroponik Se-Indonesia”. Acara gathering yang bertepatan dengan Hari Air ini dihadiri oleh komunitas petani hidroponik se-Indonesia. Sebanyak 500 undangan ternyata justru membludak menjadi 700 orang yang terdaftar untuk mengikuti acara ini. Mulai dari Komunitas Hidroponik Medan, Komunitas Hidroponik Jawa Tengah, Komunitas Hidroponik Cirebon, Komunitas Hidroponik Bandung, Komunitas Hidroponik Bojonegoro, Komunitas Belajar Bersama Hidroponik yang merupakan wadah komunitas hidroponik online, hingga Komunitas Hidroponik Malaysia berkumpul saling bertemu dan saling bertukar pengalaman tentang bertani. Acara ini juga dihadiri oleh Kepala Dinas Pertanian Jawa Timur, Wibowo Eko Putro dan Direktur Utama Puspa Agro, Abdullah Muchibuddin.

Mengangkat tema “Era Baru Pertanian Indonesia Pemuda Bangga Menjadi Petani Hidroponik” memang mempunyai misi untuk menyebarkan semangat bertani. Terlebih Indonesia sebagai negara yang agraris, akan sangat malu jika warganya sendiri tidak bangga menjadi petani.

“Kita ini negara agraris, tapi petaninya sudah tidak bangga jadi petani, warganya juga. Jadi mari kita gelorakan, mari kita semangatkan, bahwa kita bangga jadi petani. Jangan menganggap seakan-akan jadi petani itu kutukan. Padahal Thailand, Vietnam, Australia, Jepang itu orang-orangnya bangga sekali jadi petani. Kita juga harus bangga,” ucap Abdullah, Direktur Utama Puspa Agro saat memberikan sambutan di acara Gathering Hidroponik Se-Indonesia.

Karenanya dalam kesempatan gathering kali ini selain diisi oleh sharing kegiatan masing-masing komunitas, juga diadakan sesi diskusi mengenai kendala hingga berbagi tips saat bertani. Khususnya bertani hidroponik. Bertani secara hidroponik dianggap sebagai salah satu alternatif bertani yang tidak lagi terpaku pada metode bertani tradisional yang tidak diminati oleh masyarakat. Bertani secara hidroponik menawarkan cara bertani secara sederhana dan menyenangkan. Dengan media air dan anti pestisida, bertani secara hidroponik diharapkan mampu menghapus anggapan bahwa bertani itu kotor dan hasil dari panen hidroponik itu tidak sehat.

“Problem yang ada di Indonesia itu selain adanya mutasi lahan, kenapa tidak banyak yang mau bertani, karena konsumsi buah dan sayur di rumah tangga juga rendah. Karena itu harapannya dengan adanya komunitas hidroponik seperti ini, yang mana Jawa Timur sudah dinaungi oleh sebuah koperasi, mampu menebarkan virus bertani. Minimal dibudidayakan sendiri dan dikonsumsi sendiri. Karena hidroponik itu hasilnya aman sekali untuk dikonsumsi dan menyenangkan,” tutur Kepala Dinas Pertanian Jawa Timur, Wibowo Eko Putro.

Jika mengacu pada pernyataan yang disampaikan pula oleh Ketua Komunitas Hidroponik Surabaya, Yoso Susrianto, bertani secara hidroponik memang mempunyai prinsip 3 M, Mudah Murah Menyenangkan. Mudah karena bisa dilakukan di mana saja, bahwa di rumah yang lahannya sempit sekalipun, murah karena tidak memakai pestisida dan menyenangkan karena tidak harus berpanas-panasan dan kotor-kotoran. Namun tetap dengan konsep 3 M pula, Man Money Methode, yang mana perhitungan Sumber Daya Manusia, pengeluaran dan pemasukan serta metode yang digunakan benar-benar dihitung secara detail. Itulah sebabnya harga sayur atau buah hidroponik memang cenderung lebih mahal, tapi dijamin sehat dan segar plus bisa langsung dikonsumsi.

Secara dominan, mereka yang bergabung di komunitas hidroponik memang ibu atau bapak rumah tangga. Faktor yang mendukung mereka untuk bertani hidroponik kebanyakan untuk mengisi waktu luang atau untuk dikonsumsi secara pribadi. Namun dalam Gathering Hidroponik Se-Indonesia juga dihadiri mahasiswa dari UPN Surabaya dan salah satu universitas di Malang, yang juga sempat bercerita tentang kegiatan sosialisasi bertani hidroponik yang telah dilakukan.

Salah satu petani hidroponik yang sempat bercerita tentang pengalamannya, seorang ibu rumah tangga, Christiana, mengaku mencoba untuk menggeluti dunia pertanian hidroponik karena untuk mengisi waktu luangnya di rumah dan untuk dikonsumsi sehari-hari. Sejauh ini anggota komunitas petani hidroponik di Indonesia yang sudah bergabung ada 13 ribu warga.

 

Naskah: Istiqomah/Ulin Rostiti

Foto: Nadia Maya