Teka-Teki Mencekam MIDNIGHT SHOW

29 January 2016

Dibuka dengan darah. Seorang anak laki-laki berbicara dengan satu sosok yang hanya ada dalam imajinya. Korban pertama adalah kucing peliharaannya, dibantai dengan tangan kosong. Setelah itu ia lantas membuat ibunya “tidur” dengan menghantan nadi radialisnya dengan menggunakan pisau. Bocah itu menggorok ibunya. Bahkan Sang Ayah yang menolak minta ampun juga tetap saja ditikam habis hingga merah membanjiri ruang depan rumah. Bocah itu bernama Bagas.

 

Di awal tahun 2016, industri film Indonesia dikejutkan dengan munculnya film bergenre thriller besutan sutradara muda perempuan bernama Ginanti Rona Tembang Asri. Film yang diproduksi oleh Renee Pictures ini mengangkat latar cerita mengenai suasana Bioskop Podium—sebuah bioskop lawas, lengkap dengan konsep bangunan klasik—yang semakin sepi penonton. Untuk memperbaiki kondisi ini, pemilik Bioskop Podium akhirnya mengambil jalan untuk memutar sebuah film kontroversial yang berjudul Bocah. Film ini konon katanya diangkat dari kisah nyata, yaitu tentang seorang anak bernama Bagas yang membantai keluarganya sendiri. Film Bocah inilah yang membuat adanya kemelut berujung pembunuhan di dalam gedung bioskop tua tersebut.

Film Midnight Show diperankan oleh Acha Septriasa yang berperan sebagai Naya, pegawai penjual karcis dari Bioskop Podium. Selain itu juga ada nama Ratu Felisha, Gandhi Fernando, Ganindra Bimo, Citra Prima, dan masih banyak lagi bintang-bintang muda lainnya.

Membahas mengenai film thriller di Indonesia memang bukanlah sebuah genre yang umum. Terdapat “tantangan” untuk membuat genre thriller dapat diterima oleh masyarakat Indonesia. Jika sampai terjebak pada cerita yang kurang dapat menangkap mata dan pikiran penonton, bisa saja film tersebut lantas dipandang sebelah mata. Melihat film Midnight Show, dari sisi cerita film ini jelas berhasil menghadirkan “kejutan-kejutan” di setiap scene-nya. Premis yang ditawarkan dalam film ini sangat menarik, bahkan alur ceritanya pun terbolak-balik, yang akhirnya membuat penonton berhasil dibuat penasaran dengan ending cerita film Midnight Show.

Film ini mengambil setting tahun 1998 dan properti yang ada di dalam film Midnight Show sangat sesuai dengan masa itu. Hal ini dapat dilihat mulai dari busana pengunjung bioskop, harga permen lollipop yang masih Rp.100,- bahkan harga tiket bioskop yang hanya Rp. 1500,-. Detail-detail dalam film Midnight Show sangat membantu penonton untuk mengkondisikan bahwa film itu ada pada tahun 1998. Ditambah lagi terdapat narasi yang disampaikan oleh Pak Jo (Ronny P Tjandra) kepada Lusi (Gesata Stella) yaitu “hati-hati di jalan. Semakin banyak orang yang hilang. Diculik lantas dibunuh”.  Narasi yang disampaikan oleh Pak Jo seolah-olah mengingatkan pada kejadian tahun 1998 di Indonesia, bahwa pada masa Orde Baru banyak sekali orang-orang yang tiba-tiba (di)hilang(kan) oleh rezim.  Apresiasi sebesar-besarnya juga saya sampaikan pada penulis naskah film Midnight Show, M. Husein Atmojo, cerita yang disajikan benar-benar “menyentil”. Adanya pemilihan karakter-karakter yang terbunuh juga menjadi sebuah hal yang menarik untuk diulik lebih dalam. Kenapa harus ada sosok Hakim, Jaksa, Sutradara, bahkan Jurnalis yang dalam film Midnight Show diposisikan memiliki citra negatif ? Apa di era 1998 ada diskursus yang lebih besar dengan profesi tersebut? Ini adalah pertanyaan besar.

Selain dari segi cerita, visual yang ditampilkan juga sangat memanjakan penonton yang gemar menonton film bergenre thriller. Darah ada dimana-mana—Ginanti Rona, Sutradara film Midnight Show, gemar sekali memadu-padankan darah menjadi salah satu artistik yang menarik, apik, dan pas dalam film tersebut. By the way, Midnight Show ini sudah mengalami 3 kali keluar masuk Lembaga Sensor Film loh, sampai akhirnya berujung pada beberapa scene yang terpaksa harus direvisi karena dianggap terlalu “sadis”. Namun hal itu tidak mengganggu keutuhan dari cerita film Midnight Show.

Saya terkejut ketika melihat akting dari Garindra Bimo (Tama) yang sangat unforgettable. Saya masih ingat bagaimana mata, tangisan, teriakan frustasi, hingga gestur Tama, sang sutradara film Bocah. Acha Septriasa pun tampil mengejutkan dengan tiba-tiba hadir di film dengan genre yang berada di luar zona nyamannya.

Film Midnight Show berhasil membawa sebuah angin segar bagi industri film Indonesia. Ginanti Rona telah membuat penonton “terjebak” dalam sebuah cerita yang tak tertebak bagaimana ujungnya. Sebuah pembuktian bahwa film thriller/horror buatan anak bangsa tak melulu soal eksploitasi tokoh wanita yang berdarah-darah; recommended untuk yang rindu film thriller bermutu racikan dalam negeri.

 

Naskah : Virgina Sanni/Nadia Maya Ardiani

Foto : Dok. Merdeka FM/Dok. Renee Pictures