“Tanah yang Hilang” : Kaca Mata Lain Tragedi Lumpur Lapindo

13 June 2016

Dalam rangka peringatan 1 dekade tragedi Lumpur Lapindo, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya mengadakan bedah buku photo story karya Mamuk Ismuntoro yang bertajuk “Tanah Yang Hilang”. Mamuk Ismuntoro sendiri merupakan seorang fotografer yang mengawali karir memotretnya di Radar Surabaya, berpindah ke Majalah Mozaik, sampai akhirnya Mamuk memutuskan untuk menjadi seorang Fotografer Freelance hingga saat ini.

            Awalnya Mamuk bercita-cita ingin menjadi pemain sepak bola, tetapi terkendala ijin orang tua. Mamuk akhirnya banting setir dan tertarik dengan dunia memotret, apalagi lingkungan dan teman-teman kuliahnya mendukung. Setelah beberapa waktu, Mamuk lebih memilih untuk menjadi Fotografer Freelance, karena merasa pekerjaannya lebih dihargai, dan juga lebih bisa bertemu dengan teman-teman sesama Fotografer.

Buku “Tanah Yang Hilang” ini sengaja dibuat oleh Mamuk Ismuntoro dengan packaging yang cukup unik. Sampul depan seperti surat tanah berwarna hijau dimana gambar tengahnya bukan lagi gambar burung Garuda, melainkan gambar bekas bangunan rumah yang terbalik. Desain sampul depannya itu juga termasuk sebagai karya kolaboratif antara Mamuk dengan beberapa desainer luar negeri. Sedangkan isi dari buku tersebut terdapat dua bagian, yang pertama adalah pengantar dan bagian kedua adalah hasil – hasil foto dokumenter Mamuk. Ia juga menyebutkan bahwa adanya buku ini merupakan alternatif sejarah atau penanda pernah adanya sebuah peristiwa besar di Indonesia. Benang merah yang dihasilkan dari buku itu sendiri adalah tentang ‘kemanusiaan’.

Memotret Lapindo selama 10 tahun diakui Mamuk bukanlah hal yang mudah. Sebab selain memotret, ia juga turut masuk ke dalam lingkungan para korban Lumpur Lapindo yang sekarang beberapa diantaranya masih dalam status mengungsi. Pendekatan fotografer atau dokumentarian adalah dengan bentuk wawancara langsung, karena kebanyakan orang Indonesia suka diajak mengobrol. Dan sejak tahun 2006, ia berjanji pada dirinya sendiri akan tetap terus memotret perkembangan Lumpur Lapindo hingga Mamuk tidak sanggup memotret lagi.

Teks & foto : Aulia Motorrista/Adewinta Nawangsari/Virgina Sanni