RI Tambal Defisit Dagang ke China Lewat Sayuran Organik

26 March 2018

Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Perdagangan melirik potensi ekspor produk pertanian organik ke China, seiring dengan pesatnya pertumbuhan permintaan di negeri tirai bambu tersebut. Nilai tambah dari produk organik tersebut diharapkan bisa mendongkrak nilai ekspor Indonesia ke China yang kerap defisit.

Sekretaris Jenderal Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Fajarini Puntodewi mengatakan produk pertanian organik juga sejalan dengan kebutuhan produk gaya hidup di China, yang ditopang oleh peningkatan pendapatan masyarakatnya.

Menurut data Bank Dunia, Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita China 2016 lalu sudah tembus US$8.123 atau melesat 78,13 persen dibanding 2010, yakni US$4.560.

Seharusnya, Indonesia bisa melihat peluang ekspor produk yang menunjang gaya hidup ke China. "Ini tentu benefit (manfaat) yang menarik, tentu Indonesia harus sudah bisa berpikir out of the box," ujarnya, Rabu (21/3).

Ia melanjutkan produk eksotis bisa dihargai tinggi di China. Untuk sayuran organik, misalnya, harganya bisa 800 persen lebih tinggi ketimbang sayuran biasa. Nilai tambah ini lebih besar dibanding produk organik di Amerika Serikat yang kenaikannya hanya 21 persen hingga 100 persen atau Eropa dimana harga produk organik lebih tinggi 13 persen dari sayuran biasa.

"Mereka memang menggandrungi produk gaya hidup karena di sana lagi booming (tren). Saya rasa, preferensi konsumsi di China ini sudah menonjolkan quality over the price (kualitas mengalahkan harga)," kata Fajarini.

Langkah ini bisa menjadi amunisi Indonesia untuk menambal defisit perdagangan Indonesia dengan China. Data Kementerian Perdagangan menunjukkan Indonesia memiliki defisit neraca perdagangan nonmigas sebesar US$13,89 miliar sepanjang tahun lalu lantaran ekspor Indonesia ke China senilai US$21,32 miliar lebih kecil dibanding impornya, yakni US$35,51 miliar.

Selama ini, Indonesia selalu mengirimkan komoditas sumber daya alam ke China, seperti batu bara dan minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) yang notabene rentan terhadap pergerakan harga internasional. Jika Indonesia ingin mengurangi defisit perdagangan dengan China, Indonesia harus berani melakukan diversifikasi produk ekspor.

"Ekspor Indonesia yang berbentuk komoditas ini tidak bisa mengendalikan pasar. Sehingga, memang diperlukan langkah untuk penetrasi lebih dalam ke dalam pasar China," imbuh dia.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia tercatat US$168,73 miliar atau tumbuh 16,22 persen dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu, ekspor nonmigas Indonesia di waktu yang sama tercatat US$153 miliar.

Adapun, China menempati urutan pertama pasar tujuan ekspor nonmigas dengan porsi 9,07 persen dari seluruh total ekspor nonmigas Indonesia.