Tinder Down, Milenial Bakal Kesepian

06 April 2018

Jakarta, CNN Indonesia -- Skandal kebocoran data Facebook berdampak pada aplikasi kencan online, Tinder. Banyak pengguna Tinder yang kerap masuk memakai akun Facebook mengaku tak bisa mengakses akun mereka.

Keluhan tersebut bertebaran di Twitter. Banyak pengguna 'curhat' tak bisa mengakses akun Tinder sejak Rabu (4/4). Sejumlah pengguna panik karena terus mengalami loop saat ingin masuk ke akunnya.

"@tinder saya terjebak di perizinan Facebook login yang terus berulang-ulang. TOLONG!" tulis seorang pengguna Tinder di Twitter.

"Tinder down artinya aku tidak akan mendapatkan perhatian dan tidak diberitahu bahwa aku cantik. PERBAIKI!!!" hardik pengguna lain.

Beberapa pengguna yang berhasil masuk juga melaporkan masalah lain. Ia kehilangan semua percakapan dengan pasangan yang mereka temukan di Tinder.

"Tinder, apakah kamu baik-baik saja sayang? Tampaknya kamu sudah menghapus semua match dan calon suamiku. Boleh aku mengklaim kompensasi jika aku jadi jomlo selamanya?" lapor salah satu pengguna seperti dilaporkan Independent.

Kesulitan log in ini disebabkan oleh peraturan baru Facebook setelah datanya dibobol oleh perusahaan data Inggris, Cambridge Analityca. Facebook mengakui bahwa perusahaan memperketat pengamanan untuk melindungi data privasi penggunanya.

"Ini adalah bagian dari pergantian [kebijakan] yang kami umumkan hari ini, dan kami sedang bekerja sama dengan Tinder untuk mengatasi masalah ini," tulis perwakilan Facebook pada The Verge.

Pihak Tinder juga telah mengakui bahwa ada masalah teknis yang membuat pengguna gagal melakukan login. Pihaknya menyampaikan permintaan maaf melalui Twitter.

"Sebuah masalah teknis telah membuat pengguna tak bisa masuk ke Tinder. Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan tersebut dan sedang berusaha agar semua orang bisa melakukan swiping lagi segera," respons Tinder.

Skandal Facebook disebut sebagai pembobolan data terbesar sepanjang sejarah. Facebook mengungkap setidaknya 87 juta data personal penggunanya diduga ada di tangan Cambridge Analytica.

Data tersebut diduga digunakan untuk mengintervensi pemilihan presiden di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat. Mayoritas data yang bocor memang berasal dari Amerika Serikat sebanyak 70,6 juta akun atau 81,6 persen.