Marlupi Dance Academy: Kawinkan Balet dengan Tari Tradisional

25 April 2015

Indonesia kaya akan budaya. Mulai dari bahasa sampai suku bangsa. Mulai dari jajanan sampai tarian. Sebagai negara yang kaya, Indonesia pun tak sombong menutup segala kemungkinan budaya lain untuk berkolaborasi. Indonesia selalu terbuka pada perkawinan budaya lain dengan budaya yang dipunya.

Balet, sebuah tarian yang eksis di Eropa singgah di Indonesia. Tak banyak memang yang menguasai, tapi beberapa kali gelaran tari balet kita jumpai. Sekilas tari balet terkesan hanya untuk kalangan tertentu, gerakannya sangat modern dan gelarannya sangat eksklusif. Namun di tangan salah satu pemilik sekolah balet ternama di Indonesia, balet dirajut dengan indah bersama tarian tradisional Indonesia.

Marlupi Sijangga pemilik Marlupi Dance Academy, sebuah sekolah dance yang fokus pada pengembangan tari balet. Marlupi Sijangga tidak ingin penari balet jebolan sekolahnya hanya menunjukkan gerakan balet yang begitu-begitu saja. Ada misi di balik gemulainya para penari balet didikan Marlupi. Setiap koreografi, Oma Marlupi (begitu panggilan kami pada beliau) berusaha mengakulturasikan tari tradisional dengan tari balet, seperti tari Jawa dengan tari balet, tari Bali dengan tari balet, dan masih banyak lagi lainnya. Bukan tanpa hasil, para penari balet didikan Oma Marlupi justru beberapa kali sukses menyabet juara di lomba tari balet internasional melalui cara perkawinan budaya itu, hingga sering dengan sukses memukau warga negara asing untuk turut memelajari perkawinan dua tarian ini.

“Saya tidak ingin balet ditampilkan di luar negeri tanpa inovasi dan tidak menginspirasi. Karena percuma kalau kita tidak bisa mengembangkan tarian yang kita punya” tutur Oma Marlupi Sijangga saat ditemui di studio tarinya.

Semangat dan atas dasar misi inilah Marlupi Dance Academy dapat bertahan bertahan puluhan tahun di dunia tari dan balet, malang melintang perjuangan dimulai sejak tarian balet belum dilirik sama sekali oleh masyarakat luas Indonesia terutama, sampai akhirnya mampu menjadi tarian yang menarik. Berawal dari 10 orang saja, dengan fasilitas apa adanya dan jauh dari standar, kemudian berkembang pesat, mempunyai cabang di mana-mana dan sukses melahirkan ratusan penari balet. Fisik Oma Marlupi memang tak lagi muda, tapi semangatnya selalu membara untuk terus mengembangkan tarian balet di Indonesia, dengan didukung oleh seluruh anggota keluarganya, anak hingga cucu.

Para penari balet didikan Oma Marlupi kini hendak unjuk kebolehan di Denmark dan Hongkong, pada hari dan tanggal yang sama di bulan Agustus, para penari balet  Marlupi Dance Academy akan mengikuti lomba di Asian Grand Prix Hongkong dan pentas di International Dance Festival Denmark. Dan adalah sang cucu, Claresta Alim, yang ditunjuk oleh Oma Marlupi untuk mempersiapkan koreografi penampilan duta balet Indonesia di kancah dunia ini.

Sekilas lihat, menari balet memang susah, seolah harus belajar sejak dini demi kelenturan yang pas, namun Oma Marlupi meyakinkan bahwa asal ada kemauan keras, dimulai sejak usia belasan pun masih bisa jadi “yang terpenting saat menari balet adalah harus cerdas” tambah Oma Marlupi, sembari mengawasi anak didiknya berlatih. Butuh cerdas dalam artian bisa menyatu dengan gerakan-gerakan balet sehingga akan gampang menerima setiap pelajaran balet yang diberikan. Oma Marlupi juga menegaskan bahwa dengan menari balet memang kita akan dididik untuk lebih disiplin, inspiratif, dan sehat. Siapa pun bisa menari balet, asal punya niat untuk bisa “cerdas” dalam menari.

“Anak balet memang harus cerdas. Karena kalau tidak cerdas, tidak akan bisa menerima gerakan, susah untuk menyampaikan pesan dari gerakan balet. Selain itu menari balet ini biasanya kan bareng-bareng, jadi kalau tidak cerdas maka tidak akan kompak dan indah gerakannya” sambung Claresta Alim, cucu Marlupi.

Bagi Oma Marlupi sekeluarga, balet lah hidupnya. Balet lah yang menghidupi keluarga hingga saat ini. Untuk itu Oma Marlupi dan Claresta sangat berharap tari balet benar-benar bisa diterima dan didukung oleh pemerintah, ada keinginan agar tari balet juga didukung penuh oleh pemerintah Indonesia, sebagaimana yang telah dilakukan pemerintah negara-negara lain, yang sangat mendukung tari balet dan penarinya.

“Pemerintah selama ini masih belum terlalu support balet karena masih ada pemikiran kalau balet adalah tarian dari luar bukan dari Indonesia. Padahal sangat bisa kalau tari Indonesia digabungkan dengan tari balet. Bahkan tari balet ini jadi tarian dasar. Kalau bisa nari balet, nari tradisonal pun pasti bisa,” tutur Oma Marlupi dengan sangat menggebu. Salut untuk konsistensi Ibu, dan Nenek berusia 70 tahun lebih ini, yang masih bergairah menebarkan benih cinta balet kapanpun, dimanapun, dan pada siapapun, termasuk pada anak pembantunya yang sudah terlanjur jatuh hati pada tari balet.

 

Nb: Foto di samping yang berambut pendek adalah Oma Marlupi dan yang berbaju hitam adalah Claresta, cucu Oma Marlupi.

 

 

 

Naskah: Istiqomah/Ulin Rostiti

Foto: Nadia Maya