Tumpahan Minyak Ancam Pesut dan Bakau di Balikpapan

09 April 2018

Balikpapan, CNN Indonesia -- Lompatan pesut ke atas permukaan air dan keindahan hutan bakau yang berwarna hijau mulai sulit ditemui di kawasan perairan Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur.

Kehidupan kedua ekosistem itu disebut terancam pasca-insiden tumpahnya crude oil (minyak mentah) akibat patahnya pipa bawah laut milik PT. Pertamina (Persero) dari Terminal Lawe-lawe di Penajam Paser Utara ke kilang di Balikpapan, Sabtu (31/3) lalu.

Berdasarkan data Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) pada 2015, jumlah pesut di Teluk Balikpapan berkisar antara 60 hingga 70 ekor. Sementara itu, menurut data Koalisi Masyarakat Peduli Tumpahan Minyak Teluk Balikpapan, luas lahan lahan hutan bakau mencapai 17 ribu hektare.

Keberadaan pesut di Teluk Balikpapan memang sulit ditemui. CNNIndonesia.com sendiri baru berhasil melihat pesut melompat ke atas permukaan air di sekitar kawasan Pulau Balang atau sekitar 20 kilometer dari Pelabuhan Kampung Baru, Balikpapan, Sabtu (8/4).

Padahal, menurut informasi dari sejumlah nelayan, pesut kerap terlihat melompat di sejumlah lokasi yang dekat dengan pesisir pantai Balikpapan. 

Ketua bidang Kampanye Koalisi Masyarakat Peduli Tumpahan Minyak Teluk Balikpapan, Husain Suwarno, membenarkan hal tersebut. 

Namun, menurutnya, infromasi lebih aneh justru diketahui dari regu penyelamat yang menyampaikan bahwa segerombolan pesut terlihat berenang di sekitar Kabupaten Penajam Paser Utara menuju ke arah laut lepas.

Husain berkata, hal tersebut merupakan sebuah anomali karena pesut di perairan Teluk Balikpapan tidak pernah bermigrasi sejak ribuan tahun silam.

"Pesut di Teluk Balikpapan adalah pesut residen yang menetap dan hilir mudiknya di Balikpapan. Pesut Teluk Balikpapan sudah ribuan tahun silam sebenarnya memang memisahkan dengan teluk pesisir laut," kata Husain saat berbincang dengan CNNIndonesia.com di Balikpapan, Minggu (9/4).

Dia pun menuturkan, hanya satu ekor pesut yang dinyatakan tewas akibat terkontaminasi ceceran minyak mentah Pertamina sejauh ini. Husain berkata, pihaknya belum dapat memastikan kabar seekor pesut turut tewas di Pantai Klandasan.

"Dikatakan ada dua ekor pesut mati, tapi satu tidak teridentifikasi. Kami tidak menerima gambarnya, sehingga kami tidak bisa menyatakan ada dua," ujarnya.

Selanjutnya, dia menerangkan, tiga wilayah hutan bakau di sekitar Teluk Balikpapan dipastikan telah tercemar ceceran minyak mentah Pertamina. Husain pun menjabarkan, lokasi tiga hutan bakau itu adalah di daerah aliran Sungai Somber, Sungai Wain, dan Desa Margsari.

Menurutnya, luas hutan bakau di tiga wilayah tersebut mencapai ratusan hektare. 

"Daerah aliran Sungai Somber luasnya sudah 48 hektare, Sungai Wain juga sangat luas, lalu Margasari 11 hektare terpapar semua," katanya

Dia pun meminta, pemangku kepentingan terkait untuk mengambil langkah cepat menyikapi ceceran minyak mentah pertamina yang telah mencemari hutan bakau ini.

Menurut Husain, hutan bakau merupakan jantung Teluk Balikpapan dan tempat pemijahan ikan dan sejumlah ekosistem laut lainnya.

Selain itu, dia menambahkan, hutan bakau memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menyerap karbondioksida atau CO2 dibandingkan hutan-hutan lainnya.


"Jantungnya Teluk Balikpapan kawasan bakau yang terkenal ada hutan primer yang sudah puluhan tahun dengan ketinggian sampai 30 meter," tuturnya.