Ngenest Movie : “Hidup yang Tertawa”

13 January 2016

Things Happen For A Reason

(Meira – Ngenest Movie, 2015)

 

Layaknya cuplikan kalimat diatas, bahwa sesuatu terjadi pasti ada alasannya. Begitu juga ketika Ernest Prakasa memutuskan bekerja sama dengan Starvision untuk membuat Ngenest Movie yang diangkat dari novel best sellernya. Ngenest Movie adalah sebuah film drama komedi besutan Ernest Prakasa yang diadaptasi dari novel trilogi dengan judul yang sama. Film ini bercerita tentang kehidupan Ernest dari kecil, remaja, hingga dewasa. Film ini menyentil pula bagaimana Tionghoa memiliki hidup yang teramat menantang di Indonesia, sehingga seorang Ernest Prakasa memiliki inisiatif untuk merubah garis keturunannya dengan menikahi seorang Pribumi.

Ketika mendengar Ernest akan membuat sebuah film, saya sangat penasaran, film apakah yang akan digarap. Mendapat bocoran akan mengerjakan film dari cerita trilogi novel komedinya, semakin saya bertanya-tanya, bingung, dari sekian banyak cerita yang ada dalam novel, bagaimana cara Ernest menjahitnya satu per satu. Ernest Prakasa mengatakan, film ini justru jauh berbeda dengan apa yang selama ini pembaca nikmati dan penonton stand up comedy rasakan. Ia menjanjikan konsep komedi yang berbeda dan setelah saya menonton Ngenest Movie, ya.. Ernest berhasil menyajikan perbedaan itu. Banyak sineas yang mencoba mencari kesamaan imajinasi pembaca novel dan film adaptasinya, namun Ernest justru jeli untuk melihat peluang yang berbeda. Di lain sisi juga, ini adalah salah satu bentuk variasi dari komedi yang selama ini ia bawakan. Sehingga perbedaan antara komedi yang ada di film, panggung, dan novel dapat membawa angin segar pada penikmatnya.

Ngenest Movie bercerita dengan lugas, tuntas, dan menyenangkan, tidak ada ekspresi mengerutkan dahi saat menontonnya, konsep cerita dan alur film yang mengalir mampu membuat  penonton benar-benar jujur dalam tawa. Lebih segar lagi ketika mata ini diberi suguhan beberapa cara pengambilan gambar yang tidak umum, bahkan tak jarang menggunakan tipe shot mulai dari Big Close Up hingga Extrime Close Up. Pengambilan gambar yang demikian menambah rasa komedi dari Ngenest Movie, penonton dapat dengan gamblang menikmati setiap ekspresi dari aktor dan aktris yang totalitas.

Nonton Ngenest Movie seperti membaca “diary” seorang Ernest. Bagaimana sejak kecil Ernest sudah menjadi target operasi kawan-kawannya. Film ini mengatakan bahwa trauma masa kecil Ernest benar-benar “serius”, bahkan sampai berdampak pada keputusan penundaan untuk memiliki anak. Bagi Ernest memiliki anak itu menjadi sebuah pemikiran panjang, bukan takut tidak bisa menghidupi, tapi lebih pada takut kelak anaknya akan terlahir “mirip” dengannya. Penonton juga dibawa masuk ke dalam suasana haru, ketika adegan bagaimana Meira, istri Ernest (Lala Karmela) mencoba membujuk dan meyakinkan Ernest bahwa memiliki anak bukan suatu hal yang menakutkan. Dalam adegan ini penonton bisa larut dengan setiap isak tangis gelisah bahkan tawa. Chemistry yang dibangun antara Lala Karmela dan Ernest Prakasa sungguh erat, setiap adegan bisa dihayati dengan pas dan yang terpenting pesan dalam film tersebut dapat tersampaikan.

Bicara soal Ngenest Movie, tidak hanya ada Ernest dan Lala Karmela, tapi masih banyak yang terlibat dalam film ini, sebut saja Morgan Oey, Kevin Anggara, Awwe, Regina Rengganis, Ge Pamungkas, Fico, Amel Carla, Arie Kriting, Ardhit Erwandha, Brandon Salim, Olga Lidya, dan masih banyak lainnya. Beberapa nama yang ada dijajaran pemeran Ngenest Movie, memang orang yang sudah sering kita temui di panggung stand up comedy. Hal itu yang semakin membuat film ini beragam dalam segi komedi. Sedangkan bagi Lala Karmela (pemeran Meira) ini adalah film pertamanya, dan kualitas aktingnya bisa dibilang sukses lho.. Lain halnya dengan Morgan Oey (Patrick) bermain di film komedi adalah pengalaman pertamanya. Morgan memang diberi kesempatan khusus oleh Ernest Prakasa untuk memerankan Patrick, sahabatnya, bagi Ernest Morgan memiliki karakter dan dialek Cina Totok yang kuat.Patrick banyak sekali menabur kalimat-kalimat mutiara, mulai dari kalimat pembakar semangat untuk Ernest hingga Filosofi Tokai, coba lihat bagaimana bisa sebuah “Tokai” dijadikan alat untuk berfilsuf, bagi Patrick “Tokai” bisa berati let it flow karena berawal dari sebuah keikhlasan lalu mengalir, mengambang, dan menikmati arus. Yang sudah melihat akting Morgan sebagai Patrick ini pasti langsung gemes, sama seperti saya haha. 

Lepas dari banyaknya kelebihan Ngenest Movie, saya masih kurang merasakan setting waktu dari setiap adegan film tersebut. Setting waktu 90an hanya terlihat dari eksistensi uang seratus rupiah kertas yang ditujukan Ernest remaja (Kevin) saat berada di bus kota. Bahkan ketika menontonnya saya merasa itu terjadi di tahun ini, bukan akhir 90 atau awal 2000an. Namun lepas dari setting waktu, film ini dapat direkomendasikan untuk segera dinikmati. Dirilis dari 30 Desember 2015, Ngenest Movie dapat membuktikan kualitas filmnya jika dilihat dari antusiasme masyarakat yang tinggi. Selain itu animo masyarakat di berbagai kota saat acara nonton bareng juga terlihat ramai dan penuh sesak. Buruan datang ke bioskop deh, film Indonesia haram hukumnya kalau sampai mati muda di rumahnya sendiri. Dukung terus film-film Indonesia yang berkualitas.. :)

 

Teks : Virgina Sanni

Foto : Virgina Sanni & Nadia Maya Ardiani